Mas Rohan (1)

Hari ini hari yang indah, adzan maghrib sebentar lagi akan dikumandangkan. Seharian ini entah mengapa saya lalui detik-detik puasa saya di atas tempat tidur. Maleeeeeees rasanya. Mas Rohan tiba-tiba datang.
“Assalamualaikum… Wah beraaat juuuga ini.Jam segini masih Bangkong hehehe…”. Ledek Mas Rohan. Memang yang saya tahu beliau walaupun malamnya sering begadang tapi siang hari tak pernah saya lihat malas-malasan tidur. Saya bayangkan seandainya saya bisa selalu menghargai waktu kayak Mas Rohan betapa indah hari-hari kujalani.
Masih males rasanya tubuh ini digerakkan.
“Hehehe..” Kujawab ledekan Mas Rohan dengan senyum yang agak berat. “Habis dari mana Mas, kok kayak cuaapek gitu..?'” Tanyaku, sebab kulihat di sela-sela wajahnya yang berbinar penuh semangat ada rasa capek dibelakangnya.
“Yaah,,,,, seperti biasa menuntaskan yang belum tuntas…”. Jawabnya sambil melangkahkan kaki keluar.
Tanpa berfikir panjang lagi kupaksa tubuhku ini beranjak dari tempat tidur. Jam sudah menunjukkan angka lima. Setengah jam lagi waktu berbuka puasa.
Allahuakbar Allahuakbar!! Suara adzan menggema bersahutan. Dalam hati saya bersyukur, di kota ini masih banyak yang beriman. Masih banyak berdiri masjid-masjid dan kekhusyu’an beribadah masih bisa dilakukan. Bagaimana dengan suasana Ramadlan di beberapa negara-negara Islam Timur Tengah, di Palestina khususnya. Mungkin keindahan ibadah puasa jauh dari yang terjadi disini. Atau bahkan di sana justru lebih indah. Karena setiap langkah dan aktivitasnya merupakan perang fi sabilillah? Wallahua’lam.
Saya bergegas melangkahkan kaki ke Masjid. Sekalian ambil takjil untuk membatalkan puasa. Kata Nabi bergegas untuk membatalkan puasa  sunnah adanya. Ternyata di masjid telah berkumpul banyak orang. Tak seperti biasanya, hari-hari seperti ini kok banyak Bapak-bapak dan Ibu-ibu ngumpul. Mungkin ada acara fikirku.
Ada banyak macam corak sikap, karakter tingkah laku yang ada di perumahan ini. Ada yang seenaknya sendiri memerintah, ada terlalu pede dalam tampil baik menjadi imam sholat ataupun ceramah ada juga merasa pinter sendiri.
Dalam hati saya sering menahan rasa iba dan tidak terima pada Mas Rohan, beliau yang telah menjadi tulang punggung mobilitas Masjid ini ternyata oleh sebagian orang di komunitas perumahan ini dipandang sebelah mata. Mungkin kalau bukan ada niatan tulus untuk mengabdi pada Allah beliau hengkang dari masjid ini.
Alhamadulilah keinginan murni sebagai pengabdi Allah yang sejati terpatri dalam jiwanya, hingga apapun yang terjadi dengan sikap orang-orang sekitarnya beliau tetap tabah menjalani. Beliau sering bilang: “Ini adalah ujian Allah agar membuatku semakin sabar dan sabar….hehehe..” Tanggapannya sungguh luar biasa, seperti tidak pernah terpengaruh dengan sikap orang lain yang kadang membuatnya marah.
“Han, han!! Pak Hafidz memanggil. Itu ntar segera dipindah ya,,, ne kan hampir taraweh…”
“Iya Pak…” Jawab Mas Rohan, saya tahu Mas Rohan tidak pernah mengatakan kata tidak ketika disuruh.

Waktu berjalan begitu cepat. Saat taraweh-pun dimulai. Kebetulan yang bertugas menjadi Imam taraweh (Bersambung)

About Light 4 All

Berbagi untuk Bersama

Posted on September 14, 2009, in Inspirasi Kita, Tarian Pena. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Memberikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s