Tidak Butuh Syariah (2)

“Ada beberapa tingkatan dalam beragama…” kata Beliau. “Yang Pertama, syariah, tharekat, Hakekat dan Makrifat…Syariah adalah bagian terluar. Jadi, orang yang tidak pernah melangkah ke tahapan selanjutnya…”.
Tahapan selanjutnya yang dimaksud adalah Tharikat, Hakekat dan Makrifat. “Orang yang masih selalu berkutat pada syariat (Mengamalkan Syariat) maka dia mandeg disitu…”. Lanjut beliau.
kemudian saya bekomentar; “Bukankah, syariat itu untuk membentuk karakter dan kepribadian seorang muslim?”.
“Iya betul, tapi apakah kita hanya terus pada training itu. Ketika orang sudah lulus training apakah dia selalu dalam training itu. Ada hal yang lebih penting, yakni mengamalkan apa yang kita dapat dari Training itu…”.
“jadi, ketika kita sudah sekian lama berada dalam syariah, untuk menuju tahapan selanjutnya harus meninggalkan syariah itu….?”
Dengan santai beliau menjawab: “Sekarang saya ibaratkan seorang anak kecil yang diberikan aturan sama orang tuanya, bahwa dia TIDAK BOLEH KELUAR RUMAH SETELAH MAGHRIB. Pada suatu saat ketika maghrib tiba ada jemuran yang belum di entas (di bawa kedalam rumah), trus, si bapak nyuruh ke anaknya untuk mengambil pakaian itu, apakah tidak boleh sia anak mengambilnya. sedangkan itu perintah Bapaknya? Syariah bagaikan aturan yang dibuat si bapak untuk si anak itu…”
saya hanya diam sambil mencoba menelaah benarkah apa yang dikatakan beliau itu. Sabil menghisap sebatang rokok beliau melanjutkan, “Kamu tahu telur? ada beberapa bagian dalam telur. Bagian terluar adalah kulitnya yang keras, kedalam sedikit ada kulit putih tipis yang rasanya sepet bila dimakan. Kemudian ada putih telur yang rasanya agak kenyal, namun tidak terlalu nikmat kalau tidak dicampur dengan bahan lain. Bagian yang paling dalam adalah merah telur (Folk), dan ternyata inilah yang paling enak. Tanpa dicampur apapun rasanya sudah begitu nikmat. Seperti inilah orang yang sudah makrifat, dia tidak butuh apapun hanya butuh Allah. Dan ini sangat nikmat sekali. Kamu kalau makan telur tidak bisa memakan semuanya, apalagi makan sama kulitnya…? Begitu juga dengan orang beragama…?”
“Jadi, Syariat, tharikat, hakekat dan makrifat itu tidak bisa berjalan bersama?” tanyaku.
“Ya seperti makan telur itu tadi…” Jawab beliau singkat.
Namun saya masih belum puas dengan jawabannya, “Yang saya tahu, Nabi Muhammad adalah suri tauladan bagi kita, beliaulah manusia yang mampu secara totalitas (Kaffah) menjalankan agama ini dan beliau masih menggunakan syariat…??”
Beliau hanya menjawab, “nabi Muhammad kan punya tugas untuk syiar. Memang sedikit orang yang mampu menempuh jalan ini, kebanyakan orang masih berputar di syariah…”
(To be continued)

About Light 4 All

Berbagi untuk Bersama

Posted on September 25, 2009, in Tidak Butuh Syariah. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Memberikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s