REMBULAN KESIANGAN (1)

SECERCAH ASA DI PAGI BUTA
Tetes embun dipucuk dedaunan
Sejuk…nan menyegarkan
Itulah harapan
Tapi,
Cinta dan Keinginan
Tidak selamanya seiring sejalan
Allahuakbar…. Allahuakbar….. adzan sayup-sayup terdengar merdu memanggil orang-orang yang beriman untuk segera bersimpuh dikeharibaan Tuhan-nya. Memeluk asa diantara kemabukan akan ciptaan-Nya. Mengawali hidup hari ini dengan semangat untuk meraih cita dan cinta.
Orang bilang berlomba-lombalah bangun dan beranjak sebelum ayam berkokok agar rizkinya tidak keduluan dimakan ayam. Ilustrasi sederhana orang desa. Sebenarnya dibalik ungkapan sederhana itu ada pesan moral untuk kita agar lebih bisa menghargai waktu. Sabda Rosul : ‘Waktu Bagaikan Pedang. Jika kamu tidak memotongnya maka kamu sendirilah yang akan terpotong’. Demikian mulia pesan orang tua itu.
Kabut kota Malang masih bergelayut, menutupi keindahan kota. Bagi anak kos, pagi adalah waktu yang paling tepat untuk lelap dalam buaian mimpi. Padahal, kesegaran udara pagi, menurut orang tua bisa mengawetkan badan. Memang aneh tapi nyata, mereka mestinya lebih berfikir kritis dan realistis. Merekalah yang sering kali menamakan dirinya insan intelektual, cerdas kritis terhadap persoalan-persoalan sosial aneh, bagaimana mungkin orang sakit dapat menyembuhkan penyakit. Yach, begitulah mahasiswa walaupun tindakannya salah masih dianggap benar apalagi tindakan mereka benar. Sampai saat ini tidak ada orang yang berani menyalahkan mahasiswa. Karena tidak dapat dipungkiri hampir setiap peralihan kekuasaan di negeri ini tidak ada yang tidak melibatkan mahasiswa. Betapa mahalnya harga mahasiswa. Makanya banyak aktivis yang molor kuliahnya mungkin karena alasan ini. Padahal hal ini kontradiktif dengan cara berfikir kritis dan intelektualis.
Dinginnya pagi tidaklah membuat surut Arman untuk menghadap Pencipta-nya. Baginya, kesuksesan mengalahkan rasa ngantuk dan malas di waktu pagi adalah awal dari kesuksesan hari ini.
“Eeeeemmmm…!!! Dingin sekali pagi ini…”. Gumamnya.
Setiap kali bertemu pagi ia selalu berharap dalam rangkaian harapan dan impian. Manusia hidup karena punya mimpi. Setiap apapun yang ia lakukan adalah bentuk nyata dari usaha mencapai mimpi-mimpi itu.
Seperti biasa untuk menjaga kebugaran dan kesegaran tubuh Arman selalu menyempatkan diri untuk menghirup segarnya udara pagi sambil lari-lari seputar kota Malang. Kebiasaan ini telah dijalaninya sedari SMP sejak ia ikut di karate.
Namun sejak semester akhir kuliahnya terkadang kebiasaan ini terlewatkan karena seringnya tidur larut malam. Habis subuhan selimut teballah yang menjadi temannya sampai matahari menyapa.
“Assalamu’laikum…..”. seucap salam keluar dari bibir Arman pertanda pamitan pada Tuhan-nya setelah perjalanan subuhnya. Aneh, ada rasa yang beda pagi ia rasakan. Padahal sebelum tidur semalam ada banyak kegundahan dihatinya. Terutama masalah keyakinannya memandang dan memilih seorang pendamping hidup. Baginya, hidup ini hanya sekali. Pendamping hidup-pun harus sekali untuk seumur hidup. Hakekat pendamping hidup itu adalah separuh hati yang terbelah. Menjadi satu dengan cinta sebagai jembatannya. Perjalanan hidupnya akan dijalani berdua. Susah senang bersama. Semua orang mau diajak tertawa tapi apakah semua orang mau diajak menangis. Sedang kehidupan itu fluktuatif, kadang susah kadang senang. Siapakah dia yang mampu selalu tersenyum tulus penuh kasih sayang dalam duka derita dan tawa bahagia. Dialah isteri solehah sang bunga surga.
Pagi ini, dia seolah sangat dekat dihatinya. Begitu dekat. Hingga kedekatan itu tidak mampu ia ungkapkan lewat kata-kata.
“Jen, hayo berangkat!!” Ajaknya sambil menarik selimut Jenny.
“Si’ Bos!!! Masih ngantuk…” suara lirih perlahan tenggelam kembali bersama matanya yang terpejam.
“Dah jam berapa ini..? Hayo!!!”
Tak lama kemudian Jenny bangkit kekamar mandi. Setelah bercumbu dengan yang Maha Indah keduanya berangkat menggapai sisa-sisa fajar diantara kabut tipis yang masih bergelayutan. Memang indahnya pagi melebilihi keindahan-keindahan yang dibuat manusia.  Segar, anggun. Bunga yang semalaman kuncup dalam selimut dingin kini mekar dalam pelukan mentari pagi. Kicauan burung adalah irama merdu menyambut rona merah mentari.
Disinilah harapan bersemi.
Setelah muter-muter selama beberapa menit keduanya tampak kelelahan. Keringat mulai bercucuran. Merekapun pulang.
“Ah… Segarnya!!”. Arman  menikmati setiap kucuran air yang membasahi tubunya.
oooo0oooo

About Light 4 All

Berbagi untuk Bersama

Posted on October 6, 2009, in Inspirasi Kita, Novel, Tarian Pena. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Memberikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s