Cinta dan Kenyataan

Bahasa Cinta memang sulit dimengerti. Hanya cinta yang mampu mengerti bahasa Cinta. Cinta yang terucap hanya bagian kecil dari eksistensi cinta. Cinta sebenarnya hanya ada dalam hati. Tak mampu terurai dengan kata.
Sebagaimana bergantinya malam dan siang, cinta juga penuh warna. Warna pelangi.
Jalaludin Rumi: “Cinta yang Terpendam lebih dalam”. orang bisa mudah bilang cinta, tapi apakah cinta itu semudah yang terucap dengan kata??
Seorang teman yang ternyata sekian lam membangun rumah cinta dengan orang yang dicintainya, akhir-akhir ini selalu terlihat gundah, dalam kekalutan dan kegundahannya kadang terlihat senyum dan tidak jarang pula raut keputus asaan tergabar diwajahnya.
Saya dengan sangat hati-hati bertanya padanya: “Gimana kabarnya May?”.
dengan senyum yang dipaksakan dia menjawab: “baik2 saja…..”. baik-baik saja bagaimana pikirku. Mungkin wajah bisa dibohongi tapi dapatkah orang berbohong dengan pancaran matanya?? hanya dia yang bia menjawab itu jawab bohong atau tidak, sebagai seorang sahabat saya hany bisa mendukung terhadap setiap keputusan yang dia ambil.
Saya tahu dia telah sekian lama, sedikit demi sedikit membangun pilar-pilar masa depan dengan orang yang mungkin sangat dia cintai. Tapi tampaknya, kenyataan tidak seindah dalam bayang-bayang. terlalu banyak aral yang melintang yang selalu mencoba mematahkan semangat untuk menggapai cita-cintanya.
Ketika semakin tinggi orang memanjat pohon semakin kuat pula angin yang menerpa, hanya mereka yang menjadi bahtera cinta dengan hati yang tulus dan ikhlas yang dapat melalui semua itu.
Lama saya mencoba masuk dalam fikirnya, ingin ikut ambil bagian dalam penyelesaian persoalan yang dihadapinya. Tapi saya-pun tidak bisa dengan enak begitu saja mencampuri urusan pribadi orang lain. Jika dibutuhkan saya kan datang sebagaio seorang sahabat yang selalu bersama dalam duka dan suka.
Kata orang: ‘Banyak orang yang bisa kita ajak ketawa, tapi apakah semua orang mau kita ajak menangis…” hanya teman sejatilah yang bisa kedua-duanya.
“Brow!!!” Saya sapa dia sambil menepuk punggungnya. Dengan wajah lesu dia berbalik, terihat wajah tak menentu. Wajah setengah harap, setengah melupakan. Saya duduk disampingnya, dengan segelas kopi dan sebungkus rokok kita mulai curhat-curhat ria hehehe…
“Gimana seh sebenarnya hubungan kamu…?” saya mulai mengawali, siapa tahu sedikit bisa mengobati kegalauan hatinya. Dia tetap saja diam dan diam, seolah lebih suka tenggelam dalam lamunan, entah apa?.Saya juga merasa lebih bai saya diam, saya hanya berusaha merasakan apa yang sahabat saya rasakan, siapa tahu bisa mengurangi beban resah dihatinya, tapi jika dia lebih memilih tetap diam saya-pun  tiada bisa memaksa.
Saya tahu betul naik turun hubungan itu.Akhirnya perlahan tapi pasti sambil menghela nafas dalam-dalam dia mulai bercerita.
Malam kami lalui dengan santai, sesekali terdengar bunyi jangkrik terdengar sayup. Nyaring dan kadang menghilang, kesunyian malam seolah menjadi bumbu penyedap curahan hati kami, curahan resah dan gelisah akan kekasih hati dan kegalauan kehidupan masa depan. sampailah kami pada ujung cerita, yang intinya dia lagi sedang tidak enakan dengan May.
saya bingung harus bilang apa? Hanya, kata-kata datar yang mungkin bisa mengurangi kegalauan hatinya.

About Light 4 All

Berbagi untuk Bersama

Posted on November 3, 2009, in Tarian Pena. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Memberikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s