Hikmah Keluarga_Part I

Cinta sungguh teramat suci keberadaannya. Cinta pada diri, cinta pada orang tercinta dan cinta pada sang Pencipta. Dalam cinta antar lawan jenis hanya ada suci sejati ketika terangkai dalam biduk rumah tangga. Sungguh aneh dan merugi ketika dalam masa sebelum ada ikatan suci seseorang rela menyerahkan segalanya kepada seorang pacar. Apalagi pacar yang belum jelas juntrungnya hehehe…
Mendung hitam menyelimuti alam, sejak tadi dari habis sholat Ashar rintik hujan mulai membasahi bumi. Pinginnya she keluar, tapi… belum sempat berfikir yang lain, tiba-tiba Mas Hamdan datang. Assalamu’alaikum!”. Sapa beliau dengan riang senyuman. Sambil berjabat tangan kami masuk ke ruang tamu. Kami ngomong ngalor-ngidul, banyak cerita diantara kami. Karena memang sekian lama tidak ketemu. “Mas gimana kalo sekarang kita membahas tentang rumah tangga…?”. Usulku pada beliau, karena saya tahu untuk masalah keluarga beliau banyak merasakan manis dan getirnya dan lebih pengalaman tentunya. Walau saya masih belum menikah apa salahnya tahu tentang bagaimana itu keluarga, paling tidak hal ini sudah terwacanakan sebelum waktunya saya menikah.
“wah, wah… ada apa ney.. ko tiba-tiba sampean mau membahas persoalan rumah tangga…jangan-jangan dah mau nikah nech…?”. Tanya beliau selidik.
“Ga Mas, pingin tahu ja, ya itung-itung buat referensi pas saya nikah nanti…” jawabku membela diri.
Keluarga bak sebuah kapal yang berlayar mengarungi samudera. Keluarga adalah masyarakat terkecil dalam kehidupan sosial. Dan keharmonisan keluarga merupakan barometer utama dalam sebauh negara. Jika keluarga masyarakatnya nyaman, tentram dan damai bisa dipastikan negara itu aman sentosa. Banyak orang di luar sangat dihormati dalam rumah tangga tidak di dengar omongan-nya. Banyak orang bisa ngurus perusahaan tapi tidak bisa ngurus keluarga. Karena memang keluarga adalah salah satu ujian bagi kita. Hal itu juga yang menyadarkanku bahwa materi bukanlah jaminan menuju kebahagiaan.
Ketika di Surabaya banyak saya dapati orang-orang mengeluh dan curhat tentang ketidak harmonisan keluarganya padahal secara materi sudah lebih dari cukup.
Yang terahir kemarin seorang sahabat yang kebetulan sudah nikah lima tahun yang lalu curhat. Katanya, “Saya heran, istri saya tidak pernah menghargai jerih payah saya dalam bekerja, selalu saja menuntut…”. Keluhnya pas kami istirahat di warung kopi. Hal itulah yang membuat saya ingin tahu bagaimana she sebenarnya keluarga itu? Dipungkiri atau tidak setiap laki-laki normal ingin menikah tak terkecuali saya, karena saya juga normal hehehe…
 “Bagaimana mas  harus bersikap sebagai seorang kepala keluarga Mas…?”. Tanyaku. Pertanyaan itu sebenarnya adalah kegalauanku sebagai seorang laki-laki, menurut agama kan suami idealnya adalah presiden rumah tangga.
“Yang saya rasakan kita itu harus punya seni….?” Kata beliau singkat.
“eh sampean kan sudah berseni hehehe,,,”. Kilahku, dengan nada guyonan, beliau tertawa seraya melanjutkan.
“Maksud saya ada pola tersendiri yang harus dilaukan dalam sebuah keluarga. Kita adalah presiden rumah tangga, dan istri kita adalah manager keluarga… Presiden inilah yang bertanggung jawab pada keluarga secara keseluruhan dan istri yang bertanggung jawab dalam internal keluarga, jadi keduanya harus harmonis, harus seiya sekata, walau tidak dapat disadari pasti ada beda. Pola yang saya maksud adalah trik atau seni bagaimana menghadapi anggota keluarga terutama istri, misalkan, kita ngambeg-ngambeg-kan, entah karena silang prndapat atau lainnya. Pas pulang kerja yang biasanya disediain makan, atau air hangat untuk mandi waktu itu tidak ada, jika kita langsung marah-marah justru ngambeg-ngambekan itu tadi akan semakin memanas, tapi ketika itulah kesempatan untuk menarik perhatian, kalau misalkan sebelumnya kita tidak pernah memanggil sayang, cobalah panggil si istri dengan “Sayang, kok air hangatnya belum siap….?”
Tidak harus dengan seperti itu, artinya kita punya pola/seni bagaimana mencuri hati sang istri. Bagaimanapun ketika sudah jadi istri kita dia sudah tanggung jawab kita bagaimanapun keadaannya. Jangan merasa menyesal dengan sikap istri yang kadang tidak mengahargai kita, siapa tahu hal itu hanya perbedaan cara pandang saja.
Dan jangan lupa, harus romantis. Karena hal itu merupakan bumbu penyedap dalam interaksi keluarga, terkadang kata-kata sepele yang indah bisa mencairkan kebekuan hubungan keluarga….”.
Kayaknya saya mendapatkan pencerahan, melihat sebagian kecil dalam rumah tangga, saya tahu mas Hamdan keluarga sangat harmonis. Saya kadang iri melihatnya bersenda dan bercengkrama dengan anak-anaknya.

About Light 4 All

Berbagi untuk Bersama

Posted on January 26, 2010, in Inspirasi Kita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Memberikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s