Cinta seorang Ayah (1)

atha Jika seseorang belum mendapatkan pekerjaan dia selalu berusaha untuk mendapatkannya. Aneh, ketika pekerjaan itu telah didapat dia akan mengeluh, kok banyak sekali tugasku, kok ini ko itu hehe, itulah Rahman. Rahman suka mengeluh, Rahman selalu berdoa pada Allah agar keluhan-keluhan itu menjadi lantutan syukur atas anugerah-Nya. Tapi Rahman juga manusia yang masih punya sifat-sifat kemanusiaan. Diantara keluhannya itu bukanlah sesuatu yang salah akan tetapi fluktuasi jiwa yang belum terarah.

Hari ini Rahman begitu capek, aturan institusi mengharusnkannya brangkat pagi pulang sore, ketika berangkat anaknya masih tidur, pas pulang disore hari anaknya sudah tertidur. Kadang dia berfikir, bekerja keras salah-satunya untuk membahagiakan keluarga. Daya fikir dan daya fisik tidak seharusnya dikorbankan untuk kepentingan pekerjaan. Ada orang keluarga yang mempunyai hak atas waktu dan hari-hari yang dia miliki. Malah kalau mau pragmatis, di tempat kita bekerja anggapan baik dan apresiasi datang hanya ketika kerjaan kita baik, ketika sudah tidak banyak hal yang bisa kita sumbangkan terkadang nilai kita pupus bersamanya. Sungguh sangat merugi ketika kita tidak menghiasinya dengan niat yang lebih mulya, bekerja karena mencari ridho-Nya. Tapi keluarga, mereka adalah orang-orang yang senantiasa mencintai kita apa adanya, tidak pada baiknya saja. Labuhan ketika terahir di dunia ketika semua orang pada tidak suka keluarga selalu siap menerima kita. Haruskah pekerjaan menghilangkan hak keluarga kita ketika bekerja itu untuk kebahagiaan mereka.

Hari ini ada senyum terkembang di wajah Rahman, begitu dia ucapkan salam seorang putri kecil menjawab ” Cumsalam”. Jawaban singkat penuh makna, anak yang belum genap dua tahun ini seolah tahu bahwa Ayahnya begitu rindu padanya. Begitu ingin maen-maen dengannya.

Belum lagi Rahman melepas kaos kakinya sang anak menarik-narik tangannya, “Yah..yah…Pupak, pupak”. Rahman bingung ga faham maksud sang anak.

Tampak istri Rahman tahu kebingungan itu “Yah… maksudnya disuruh naik itu…” Kata istrinya sambil menunjuk kuda-kudaan dari plastik.

“Masya Allah…. Pinter..” Jawab Rahman. Baru dia dia mengerti mengapa dalam Islam seorang Ibu disebut madrasah pertama untuk anak-anaknya. Karena dialah yang hampir setiap saat setiap waktu bersama sang anak. Memandikannya, mengganti popoknya, menyusuinya bahkan bangun tengah malam disaat sang suami tenggelam dalam mimpi indahnya.

Akhirnya Rahman menuruti keinginan sang anak. Rasa capek ngantuk seolah hilang seketika, walaupun dia dengan susah payah naik kuda-kudanya yang kecil sampe dengkulnya tertekuk. Disurung dari belakang oleh sang anak, disuruh loncat-loncat. wah pokoknya capek. Tapi semua itu dia lakukan dengan senang hati, karena sang buah hati senang dengannya.

(Bersambung)

About Light 4 All

Berbagi untuk Bersama

Posted on May 10, 2014, in Inspirasi Kita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Memberikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s