Cinta seorang Ayah (2)

atHari-hari telah berlalu tibalah saatnya hari sabtu, hari yang ditunggu-tunggu. Hari istimewa. Jika hari jumat adalah sayyidul ayyam maka sabtu adalah hari bahagia bagi yang hari libur kerjanya minggu. Dihari ini kasih sayang penuh tercurahkan, tanpa tugas, tanpa beban semua untuk keluarga tercinta. Tapi terkadang dihari liburpun masih masuk juga. Itulah akhirnya terkadang Rahman bertanya pada dirinya sendiri. Hakekat orang bekerja (yang terikat waktu) itu kan untuk hanya salah-satu jalan untuk memenuhi syarat untuk mencapai bahagia, bagaimana kiranya jika yang terjadi sebaliknya? Karena banyak tuntutan kerja yang belum selesai justru kurang maksimal memberikan hak pada keluarganya.

Pulang-pulang sudah pusing, kalut. Sampai rumah masih lembur sampai malam. Pagi-pagi sudah bangun, bukan nyari anaknya, menengoknya, menunggunya agar bisa memberikan sapaan terindah saat dia bangun tidur, agar hari ini bisa dilaluinya dengan riang. Tapi malah bingung karena tugasnya belum selesai, deadline. Sungguh luar biasa anehnya kadang hidup ini. Jika kita berfikir lebih jauh, aktifitas apapun yang kita lalukan hanyalah semata-mata untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki, itu bisa didapat jika semuanya berjalan seimbang. Ada porsi pekerjaan yang harus diselesaikan tanpa mengurangi hak-hak keluarga yang harus ditunaikan.

Seperti biasa ada banyak rasa yang dibawa pulang dalam hati Rahman, tapi sebagai seorang pemimpin rumah tangga dia berusaha tidak menampakkan. Karena biasanya seorang suami ingin sekali berbagi bahagia untuk istri dan keluarganya, namun jika ada galau, keluh kesah dan problema biarlah dia sendiri yang merasakan. Suami biasanya tidak mau mengotori ketentraman keluarga dengan masalahnya sendiri dengan pekerjaan. Cukuplah dia sendiri bingung dengan pekerjaannya, kebahagiaan dan keceriaanlah yang sepatutnya dibagi.

Tapi kan tidak bisa Rahman menyulap dirinya seratus persen fresh kelihatan tanpa masalah, karena sebagaimana kita tahu wajah itu adalah jendela jiwa. Sebaik apapun kita menyimpan galau dihati kerut wajah tidak bisa dibohongi. Tidak jarang istrinya bertanya “Banyak kerjaan lagi a Mas…? Seolah dia bisa merasakan capeknya sang suami.

Malam ini sebelum istirahat dia ingin ngajak jalan-jalan. Kebetulan dekat rumahnya ada pasar malam. Dia ingin memanjakan anak dan istrinya dengan berbagai permainan sehingga rasa capek dan lelah kalah dengan keinginannya untuk menebarkan senyum diwajah orang-orang tercintanya.

Pasar malam yang ramai, lebih ramai seperti biasanya. Tibalah pada permainan pertama, mobil-mobilan yang berputar diiringi dengan lagu anak-anak, begitu riang dan ceria. Sang anak tampaknya sangat menikmati, sesekali ia menirukan lagu anak-anak yang dia dengarkan. Begitu lamanya Rahman berdiri sang anak enggan juga untuk turun. Dengan rayuan ala orang capek akhirnya mau juga.

Ternyata, pasar malamnya masih panjang. Kearah depan masih banyak mainan, makanan yang menggoda untuk dinikmati sang anak. Ice Cream, yah sang anak minta ice cream. Pengeeen sekali ice cream. Sudah barang tentu tidak baik untuk anak yang masih belum genap berumur 2 tahun, disitu ada pemanis buatan dan jelas tentu ada pengawetnya sangat tidak baik untuk perkembangan tubuh dan otak. Tapi yang namanya anak yang penting dia suka tidak mikir sejauh itu. Tidak seperti biasanya dia nangis dan meronta-ronta seolah ice cream itu adalah makanan istimewa yang sangat enak. Dengan sabar istri Rahman membujuk, tidak mempan juga. Walaupun sebenarnya dia kelihatan capek karena seharian ngurusin rumah tapi berusaha memahi sang anak. Tapi karena segala jurus rayuan sudah ga mempan akhirnya dia belikan juga ice cream.

Tidak lama kemudian ada sepur-sepuran, kerlap-kerlip dengan lampu yang berwarna-warni. Tak ayal lagi sang anak ingin, dituruti juga. Baru tidak sampai dua menit sudah mau turun karena melihat ada permainan mandi bola. Pindah lagi, pindah lagi dan begitu seterusnya.

Akhirnya setelah sekian lama menikmati permainan sampailah dijung pasar malam, lha kok ada kereta putar, kerlap-kerlip diiringi dengan musik. Spontan saja sang anak ingin naik, tapi kali ini istri Rahman menahannya karena kuatir dengan keselamatannya. Di permainan kereta putar itu tempatnya agak tinggi dan tidak ada sabuk pengamannya. Tapi yang namanya anak belum tahu maksud baik orang tua. Tetap saja ia meronta ingin naik, menangis. Demi keselamatan, keinginannya terpaksa tidak dituruti walau dalam hati Rahman tidak tega, apa boleh buat. Ternyata dibujuk dengan cara apapun tidak mau, tetap menangis dan menangis. Akhirnya langsung ambil sepeda dan pulang. Diatas sepeda si anak masih nuding-nuding kereta putar sambil meronta, karena sepeda sambil melaju sementara sang anak masih meronta-ronta tangan istri Rahman terkilir. “Diam!!!” Kesabaran yang sudah terbalut lelah dan capek sampailah pada batasnya. Sang anak disentak.

Sesampainya dirumah, suami istri yang masih muda ini sama-sama diam. Tenggelam dalam lamunannya masing-masing. Menyentak anak tidak seharusnya terjadi. Sang anak belum tahu apa-apa. Keinginannya adalah rangkaian eksplorasi diri dalam masa perkembangannya. Siapakah yang salah?

Sang istri diam seribu bahasa, ada mendung penyesalan bergelayut diwajahnya. Alampun seolah diam, seolah ikut hanyut dalam lamunan.

Rahman tenggelam pada masa kecilnya, teringat bunda disana. Begitu tulus dan setia beliau mengandung, merawat. Menangis ketika kita sedih, menangis ketika bahagia dan menangis ketika jauh darinya. Kapankah kiranya dia bisa mempersembahkan senyuman terindah diwajah Ibunda? Walau dia tahu seberapa banyak kebaikan yang dia berikan tak akan mampu membalas kebaikan yang Ibunda berikan.

Barulah ia sadar, betapa penuh perjuangan orang tua mengasuh kita. Walau seringkali ada perih dihati ketika melihat kita tidak sama dengan teman-teman kita tapi beliau berusaha membesarkan hati kita.

 

SAJAK IBU

(Wiji Thukul)

 

ibu pernah mengusirku minggat dari rumah

tetapi menangis ketika aku susah

ibu tak bisa memejamkan mata

bila adikku tak bisa tidur karena lapar

ibu akan marah besar

bila kami merebut jatah makan

yang bukan hak kami

ibuku memberi pelajaran keadilan

dengan kasih sayang

ketabahan ibuku

mengubah rasa sayur murah

jadi sedap

 

ibu menangis ketika aku mendapat susah

ibu menangis ketika aku bahagia

ibu menangis ketika adikku mencuri sepeda

ibu menangis ketika adikku keluar penjara

 

ibu adalah hati yang rela menerima

selalu disakiti oleh anak-anaknya

penuh maaf dan ampun

kasih sayang ibu

adalah kilau sinar kegaiban tuhan

membangkitkan haru insan

 

dengan kebajikan

ibu mengenalkan aku kepada tuhan

(Solo, 1986)

About Light 4 All

Berbagi untuk Bersama

Posted on May 10, 2014, in Dialektika, Inspirasi Kita, Tarian Pena and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Memberikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s