Pengemis, oh Pengemis.

Kejadian Pertama,

Di Tahun 2000an, ketika saya masih mahasiswa. Suatu sore jalan-jalan menuju alun-alun Kota Malang. Membohongi perut yang lagi lapar dengan bersantai. Pada waktu itu saya punya uang Rp. 450. Ingin rasanya menghisap 1 batang rokok Surya tapi harganya Rp.500 jadi uangnya tidak cukup.

Ketika sampai di depan Rumah Makan Oen, dekatnya Gramedia dari kejauhan saya lihat pengemis tua sedang duduk menadahkan tangannya, tangan satuny memegang tongkat. Timbul keinginan saya untuk memberika uang yang Rp. 450 tadi pada pengemis itu. Setelah mendekat, eh ternyata dia sedang menghisap rokok, dan ROKOKNYA SURYA. ‘Wah Hebat benar pikirku, pengemis rokoknya Surya…..’ Maka ga jadi deh.

Kejadian Kedua,

Sore yang mendung, benar kata orang mendung tak berarti hujan. Benar juga pribahasa itu, dari jam siang tadi mendung krasan dilangit kota Malang, tapi hujan tak kunjung turun. Sudah beberapa hari ini Malang tidak diguyur hujan. Banyak debu beterabangan di jalan raya. Apalagi sore ini jam pulang kerja, kami juga bagian dari itu. Macet disana-sini. Para pengendara beringsut bagai siput, padahal dalam otaknya sudah sampai dirumah. Suasana macet ini bisa kita temui di pagi hari sekitar jam 07.00 – 08.00 dan jam 14.30 – jam 17.30. Pemanadangan gratis etiap hari. Pertanyaannya mengapa kemacetan ini terjadi? Mungkin salah-satu penyebabnya adalah pelebaran jalan dengan pertambahan jumlah kendaraan setiap hari tidak seimbang.

Kemudian, kami mampir disebuah masjid, sholat maghrib. Begitu masuk halaman masjid yang dicari pertama kali adalah toilet. Kemudian Wudlu. Saat menuju ruang sholat di arah berlawanan tampak seorang anak kecil 6 tahunan berdiri menatap kearah kami dan mejulurkan tangannya seraya berkata: “Minta Sangu…”. Katanya. Terlintas dalam pikiran kami ingin memberinya uang, kasian… tapi keinginan itu kami tahan. Timbul pemikiran yang berbeda. Jika anak tersebut kami beri uang dia akan melalukan hal yang sama pada orang lain, ‘Minta Sangu’.

Kejadian diatas salah satu contoh kecil akan kepribadian calon generasi muda kita. Entah siapa yang mengajari, banyak anak kecil sudah terbiasa dengan meminta. Bahkan di tempat-tempat keramaian, tempat ziarah, masjid jamik kita akan banyak menemui hal yang sama. Pengemis.

Jika pada waktu kecil saja mereka dididik untuk mendapatkan uang dengan cara meminta maka tidak heran jika martabat bangsa kita ini adalah bangsa yang suka minta-minta. Tidak heran juga karena mental yang terbangun mental pengemis, dalam lumbung kekayaan negeri ini banyak kemiskinan terjadi dimana-mana. Bukan kreasi yang dan inovasi yang diberikan untuk mendapatkan uang. Akan tetapi dengan menengadahkan tangan pada orang lain untuk meminta.

Bahkan tidak jarang sering kita temui banyak pengemis yang badannya masih sehat segar bugar. Tapi pengemis yang mereka pilih sebagai mata pencaharian.

About Light 4 All

Berbagi untuk Bersama

Posted on January 17, 2015, in Belajar and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Memberikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s