Hikmah Pertukaran Pelajar

Saya duduk santai, menunggu giliran menghadap. Ada pertukaran siswa dari Jepang. Diruang tamu ada pengurus PCM, 2 siswa dari Jepang dan Bos. Mereka berbincang santai tentang budaya. Kayaknya ada permintaan khusus Bos pada 2 siswa tadi untuk memberikan informasi tentang budaya Jepang ke siswa-siswi SMK Mutu. Sepintas saya dengar tentang keteraturan dalam sikap dan budaya kedisiplinan.

Student Exchang atau pertukaran pelajar memang salah satu program tahunan yang diadakan dengan harapan ada transformasi budaya dengan negara lain. Budaya yang produktif tentunya. Memang tidak semua budaya Jepang itu bagus. Tidak semua perilaku mereka cocok dengan kita yang beragama. Tapi ada beberapa hal yang menarik untuk ditransformasikan, misalnya Budaya Ketertiban, Kebersihan dan Kedisiplinan.

Banyak ajaran agama kita justru digunakan dan dibudayakan oleh orang ateis, termasuk orang Jepang. Sehingga meraka yang nonmuslin justru hidup islami. Tidak heran jika dibeberapa hal mereka jauh lebih berkembang dibanding kita. Dalam al-Quran banyak disebutkan tentang pentingnya waktu. Malah ada hadits yang mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang. Yang sewaktu-waktu bisa memenggal mereka yang tidak produktif menggunakannya.

Tapi ajaran itu hanya menjadi simbolitas. Kita bangga menjadi muslim tapi seringkali tidak islami dalam menjalani hidup. Kemundruran muslim di dunia sempat di singgung oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha denga pertanyaan yang menggelitik: “Limaadaa Taakhkharal Muslimuuna wa taqaddamal Akheruun”, Mengapa umat Islam tertinggal sementara yang lain maju?.

Konsep dan gerakan Muhammad Abduh akhirnya juga berkembang di Indonesia. Salah satu organisasi masyarakat terbesar di Indonesia, Muhammadiyah salah satunya. Muhammadiyah hadir dengan Islam yang berkemajuan.

Begitulah salah satu dasar pemikiran dalam student exchange ini. Paling tidak siswa SMK Mutu terinspirasi dengan budaya produktif yang ada didunia, khususnya dari Jepang.

About Light 4 All

Berbagi untuk Bersama

Posted on January 21, 2015, in Belajar, Dialektika and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Memberikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s