Remaja, Studi atau Cinta – MTGW

Milih mana Kuper (kurang pergaulan) tapi Sukses atau Gaul tapi Ancur?. Pertanyaan dalam bentuk ilustrasi diajukan oleh Mario Teguh pada hadirin yang waktu itu didomenasi oleh kaum muda. Pembahasannya seputar cara pandang Gaul dan Kuper dalam pandangan kaum remaja.

Remaja kita sudah mengalami dekadensi moral dan pergeseran pola pikir tentang pergaulan. Jika ingin dikatakan gaul dan keren harus ikut nyabu, minum-minuman keras, suka jalan malam dan seperangkat perilaku dekonstruktif lainnya. Gaul sudah diartikan perbuatan yang menyimpang dari norma hukum, moral dan adat. Pola pikir semacam ini jelas merugikan bagi mereka.

Sementara, anak yang rajin belajar, tidak suka keluar malam dan selalu ikut petunjuk orang tua disebut tidak gaul alias Kuper. Tipe remaja yang seperti ini semestinya menjadi sebuah kebanggaan. Karena jelas mereka yang sudah menyiapkan diri menghadapi tantangan masa depan.

Gerakan merubah pola pikir ini harus dilakukan. Definisi gaul dan kuper ini harus diposisi yang tepat. Sehingga kesadaran muncul dari dalam diri remaja sendiri.

Dalam acara tersebut Mario Teguh mengadakan polling dengan 1 pertanyaan yang diajukan: “Apa yang seharusnya menjadi fokus seorang remaja?”. 87 % memilih Sukses dalam Studi. 7 % Sukses dalam Cinta dan 6% Bingung. Kemudian ada 3 perwakilan yang tampil sebagai representasi dari 3 jawaban itu.

Perwakilan dari suara Memilih Sukses Studi mengungkapkan alasannya: “Saya memilih studi karena saya cinta pada orang tua saya“. Maksudnya, manifestasi cintanya dia kejawantahkan dengan rajin belajar. Sebagai bentuk pengabdian pada orang tua. Karena Orang tua tentunya ingin anaknya sukses, fokus pada pelajaran dengan begitu dia lebih mudah meraih kesuksesan.

Kemudian perwakilan dari Sukses dalam Cinta mengatakan: “Saya memilih cinta karena saya terlahir kedua adalah buah cinta Ayah dan Bunda“. Menurut dia, cinta itu tidak hanya diwujudkan dalam hubungan anak remaja ke lawan jenisnya. Akan tetapi bersifat universal, termasuk cinta pada orang tua dan pada Tuhan-nya. Yang terakhir berkomentar adalah dari perwakilah yang bingung, dia mengatakan jika anak muda tidak suka dengan lawan jenis itu adalah pernyataan yang munafik, karena kaum muda pasti merasakannya. Kemudian pendapat ini dibantah oleh yang memilih fokus pada studi dengan asumsi bahwa rasa suka dan simpati itu ada, tapi ditahan dulu karena itu bisa menjadi virus dalam mengejar cita-cita.

Itulah suara kaum muda, remaja. Dengan prinsipnya masing-masing. Yang jelas cinta (pacaran) adalah virus mematikan, seperti srigala berbulu domba. Sudah banyak kaum muda yang gugur sebelum berkembang hanya karena cinta yang semua, cinta yang tidak pasti. Cinta dalam proses studi itu bagaikan tuba yang tampil seperti madu. Cara dahsyat untuk merusak kaum muda dengan menjadi mereka suka dan senang berpacaran.

Suatu saat saya diskusi dengan seorang yang bijaksana, dia berpendapat remaja saat ini sudah mengalami dekadensi moral yang terlampau jauh. Jika fenomena itu dibiarkan maka akan banyak putik yang kuncup berguguran, Apalagi di era teknologi ini. Dimana media pornografi sudah merjalela. Virus ini menyerang sampai ke jantung remaja, bahkan anak kecil yang belum dewasa.

Semoga Bermanfaat!

About Light 4 All

Berbagi untuk Bersama

Posted on January 21, 2015, in Inspirasi Kita and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Memberikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s