Rahasia Panjang Umur

Suatu malam saya tidak bisa tidur di sebuah Rumah Sakit, jam sudah menunjukkan 01.00 dini hari. Udara semakin dingin, suasana rumah sakit sangat tidak enak dan mencekam, walaupun pasien yang saya tunggu ada diruang VIP, yang namanya rumah sakit auranya sangat tidak nyaman.

Di gang-gang menuju paviliun banyak orang tidur bergelimpangan, tidak lagi peduli dengan dingin yang menusuk. Disalah satu pojok gang, tepatnya diatas sebuah kursi tunggu yang terbuat dari beton seorang laki-laki tua duduk dengan santainya. Perlahan tapi pasti kuhampiri orang tua itu, dan menyapanya.

Dengan wajah teduh penuh senyum dia sambut sapaanku. Terlihat aura ketenangan disela-sela senyumnya. Akhirnya kami lebur dalam perbincangan, tentang asal daerah, adat istiadat, dia juga tanya adat daerah tempat asalku-Madura. Udara dingin seolah menjadi hangat dan sejuk sambil mendengar kata-kata si Bapak tua tadi. Karena kata-katanya dibaluti dengan petuah-petuah.

“Nunggu siapa Pak?”. Tanyaku

“Ibu saya..”. Jawabnya dengan santai.

Kemudian, saya bertanya dalam hati, Bapak yang sudah berumur senja ini ternyata masih punya Ibu. Lalu berapa umurnya?

“Saya kelahiran tahun 1938 Mas…”. Jawabnya ketika kutanya. “Ibu saya 105″.

Wah sungguh umur yang sangat fantastis. Sementara kita tahu jaman sekarang orang sudah ‘Over Sek’ – Maksudnya over seket (Istilah jawa untuk orang yang berumur diatas 50 tahun) sudah digerogoti penyakit. Jantunglah, darah tinggi, asam urat dll. Pasti ada sesuatu yang salah. Pastinya Allah sudah memberikan potensi kesehatan yang sama pada setiap manusia. Tapi mengapa yang ada berumur panjang dan tidak. Hal ini terlepas dari kehendak takdir tentunya.

Terus terang saya semakin penasaran dengan Bapak tua tadi, dan berharap mau berbagi rahasia kesehatannya. Saya awali pertanyaan saya tentang Ibunya.

“Kalo boleh tahu Ibu Panjenengan sakit apa nggih?”. Tanyaku mengawali tema baru.

“Jatuh di kamar mandi, sebenarnya beliau tidak sakit karena suatu penyakit. Tapi karena beliau sudah tua rawan jatuh dikamar mandi..”.

Jadi sebenarnya beliau (Ibunya Bapak tua) tidak sakit, artinya setua itu masih sehat. Tidak terjangkit penyakit. Kemudian saya tanya bagaimana kehidupan sehari-harinya. Dari pola makan dan aktifitas lainnya.

“Ibu saya dan juga saya tidak suka makanan-makanan instan Mas. Tidak suka Mie Instan, penyedap. Setiap makan selalu ada sayur. Dan sayurpun dari tanaman sendiri. Bukan sayur yang mengandung pestisida”. Kemudian Bapak tua itu melanjutkan, juga ada sebuah kebiasaan bangun sebelum jam 4 pagi. Bangun tidur langsung minum air putih…”. Begitu panjangnya cerita si Bapak tentang pola hidupnya, seolah-olah ingin saya catat dan saya rekam.

Untuk kemudian saya bagikan pada semua orang, agar sama-sama tahu rahasia ini. Tapi sayang, waktu saya tidak sedang membawa alat tulis apalagi alat perekam. Seandainya membawa alat perekam sekalipun tampaknya dia tidak keberatan, hal ini terlihat dari caranya bercerita, begitu semangat.

Muncul  pertanyaan dalam batinku: Apakah pola hidup masakini mempunyai andil yang signifikan terhadap kondisi kesehatan seseorang? Seingga umurnya tidak sepanjang umur orang-orang terdahulu. Sebagaimana kita ketahui, dalam hidup kita sehari-hari dikepung oleh makanan cepat saji, mengandung banyak pengawet. Bahkan cilok (makanan sejenis pentol dan gorengan, biasanya jajanan anak kecil) sudah mengandung borak.

Si Bapak tua tadi melanjutkan, “Yang penting juga, kita harus menyakini bahwa hidup ini sudah ada yang ngatur. Tidak perlu resah, tidak perlu gelisah terhadap apapun yang menimpa kita. Allah pasti punya maksud dan tujuan. Kita harus kerja keras untuk mencapai semua cita-cita, tapi kita harus ingat bahwa sesuatu yang terjadi didunia ini 99,99% atas campur tangan Allah. Manusia tidak lebih dari 0,01 % nya saja…”. Sambil memandang jauh kedepan dia menghela nafas panjang. Saya tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Yang jelas dia sedang memikirkan sesuatu.

“Oleh karena itu harus ada tawakkal dalam setiap langkah hidup kita, menyerahkan semuanya pada Allah… Biarlah kekuatan Allah yang mengatur dan mengabulkan setiap keinginan kita…”. Mencermati kata-kata Bapa tua itu saya ingat konsep Quantum Ikhlas yang digagas oleh Erbe Sentanu. Isinya kurang lebih sama, tapi dengan penjelasan yang berbeda.

“Banyak orang mengira saya masih berumur 55 tahun, dan mereka kaget setelah saya cerita bahwa umur saya sebenarnya sudah 76 tahun…, ini anugerah luar biasa dari Allah. Tapi kita perlu ingat Allah tidak begitu saja memberikan anugerah pada seseorang jika tidak ada usaha dari yang bersangkutan….”.

Begitulah cerita singkat pertemuan malam itu, semoga cerita beliau menjadi pelajaran bagi kita semua.

About Light 4 All

Berbagi untuk Bersama

Posted on March 16, 2015, in Inspirasi Kita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Memberikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s