Live from France (11) Jujur tanpa Syarat

LE HAVRE – Banyak cara yang dilakukan oleh pemegang kebijakan suatu daerah untuk mengatasi kemacetan kotanya. Di Jakarta ada Bus Way dan sekarang sedang dikembangkan Jakarta Mass Rapid Transit atau popular dengan sebutan MRT saja. Di beberapa Negara Eropa sejak lama menggunakan TRAM untuk mengurai kemacetan.

TRAM juga dikenal dengan
sebutan LRT (Light Trail Transit) berjalan di tengah kota dan mempunyai jalur sendiri seperti layaknya kereta api. Hari ini sengaja dari Schuman-Perret ke Jules Siegfried menggunakan TRAM, tentu saja dengan dipandu oleh orang yang sudah pengalaman disana.

Tempat menaikkan penumpang sama persis dengan halte Bus Way. Tapi tidak sepadat di Jakarta tentunya. Begitu penumpang naik, mereka langsung menempelkan kartu TRAM-nya di scanner. Jika masih valid akan muncul notifikasi ‘accepté ‘ (diterima). Jika tidak valid muncul notifikasi ‘rejeté’ (ditolak).

Walaupun ‘ditolak’ si penumpang masih bisa melanjutkan perjalannya. Dia tidak harus turun atau berhenti sebelum sampai pada tujuan. Jangankan hanya ditolak tidak bawa kartupun masih bisa naik dan melanjutkan perjalanannya. Pertanyan yang muncul dalam benak waktu itu adalah Bagaimana manajemen TRAM bisa memastikan bahwa para penumpang legal semua ?

Ternyata tidak perlu dipastikan legal. Pemeriksaan dilakukan oleh inspektor (semacam petugas tiket) hanya sesekali saja, paling banyak dalam 1 hari 2x pemeriksaan. Kata Hamid Wardi (staf yang memandu kami Siegfried) hanya building a trust. Artinya legal atau tidak si penumpang, tergantung dirinya sendiri. ‘’Dan kebanyakan mereka legal, luar biasa bukan… ‘’. Katanya sambil menyunggingkan senyum.

Kesadaran dan kejujuran yang muncul dari masing-masing individu warganya. Bu Djohar, wanita asal Bandung yang sudah 28 tahun tinggal di Prancis mengatakan : Ini bukan negara muslim, tapi prinsip islami diterapkan disini… «  katanya. Misalnya prinsip keteraturan, undang-undang lalu-lintas dibuat untuk kebaikan pengguna lalu – lintas (lalin) tentunya. Artinya jika diikuti dan ditaati tentu akan meminimalisir tingkat kecelakaan.

Di Prancis pengendara akan mempersilahkan pejalan kaki untuk menyebrang, berhenti pada saat lampu merah walaupun tidak ada polisi dan jam berapapun. Hampir tidak terlihat polisi berkeliaran di jalan-jalan kecuali ada accident. Tidak seperti di Indonesia yang kadang di tikungan jalan menunggu pengendara, kemudian ditilang/ atau damai.

TRAM dari arah Schuman (jalur A) berakhir di Plage du Havre (pinggir pantai kota Le Havre). Penumpang (khususnya) tourist akan dimanja dengan pemandangan tata kota yang sangat indah. Banyak bangunan tinggi peninggalan jaman dulu bisa dilihat sepanjang jalur TRAM.

Juga beberapa peninggalan sejarah masa perang dunia kedua ketika sekutu mendarat di pantai-pantai kawasan Normandie. Sedangkan pada TRAM jalur B melintas di depan Hotel de Ville (Pendopo kabupaten/ kota) dengan hiasan tamannya yang asri. Apalagi pada saat musim semi tiba, bunga-bunga berangkulan bak rajutan warna-warni sulaman permadani. Merakah indah, menawarkan senyum tulus seolah mereka berkata pada kami : Bienvennue (selamat datang).

Pantai Le Havre menawarkan sejuta keindahan pada pengunjungnya. Pada saat musim panas tiba akan banyak terlihat banyak Kaban dan restoran-restoran berjejer dipinggir pantai. Kaban adalah sejenis kamar ukuran 2×3 yang biasanya digunakan sebagai ruang ganti. Menariknya semua bangunan dipinggir pantai tidak dibangun secara permanen. Sewaktu-waktu bisa dibongkar kembali oleh pemiliknya. Terutama saat musim dingin tiba.

Untuk masuk ke pantai yang berhadapan dengan selat Britania ini tidak dikenakan biaya. Walaupun banyak panorama indah yang bisa nikmati pengunjung pemerintah tidak memungut biaya retribusi (karcis). Sungguh beda dengan yang kami lihat di tanah air yang untuk masuk ke pantai kecil saja masih bayak karcis. Malah terkdang pantai tidak terawat dan kumuh.

Disepanjang tepi pantai disediakan tempat parkir yang ditata sedemikian rupa, lagi-lagi gratis. Tapi perlu diketahui tidak semua tempat parkir di Prancis itu gratis, ada banyak tempat parkir yang juga bayar. Insya Allah kami akan tulis khusus tentang sistem parkir di Prancis.

Pasir di pantai ini mempunyai ciri khas sendiri. Disebelah utara merupakan ujung suangai Seine (sungai sepanjang…. ) dengan pasirnya yang lembut. Sedangkan dibagian selatan koral sebesar ibu jari dengan warnanya yang bervariasi (cocok neh kayaknya buat akik hehe… di Indonesia sekarang kan lagi in batu akik hehe…

About Light 4 All

Berbagi untuk Bersama

Posted on August 27, 2015, in Perjalanan ke Perancis. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Memberikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s