Live from France (13) Sisi yang Berbeda

Kami biasa memanggilnya Nicole, seorang guru di Lycee Jules Siegfried. Mata pelajaran yang dia ampu CAD (Computer Aided Design) untuk siswa tahun pertama. Sejak pertama kali bertemu di Fecamp, Nicole terlihat sangat antusias dan
bersemangat menjelaskan tentang sekolahnya tempat dia mengajar.

Untuk ukuran orang Eropa dia terbilang biasa perawakannya, hampir mirip dengan orang Indonesia hanya kulit dan rambutnya yang tampak berbeda: pirang. Hari ini, kami diajak masuk untuk mengikuti dan memperhatikan bagaimana cara dia mengajar. Sebelum memulai pelajaran dia jelaskan tentang beberapa hal yang berkaitan dengan learning process.

Mulai dari SK/ KD dan indikator yang harus dicapai dalam satu semester. Secara umum sama dengan di Indonesia, SK/ KD di godok oleh dinas pendidikan, kemudian guru membreak down dalam silabus (Mind Map), kemudian dituangkan dalam bentuk Rencana Pembelajaran (RPP).

Setiap semester ada inspektor (pengawas) dari dinas pendidikan yang datang untuk memperhatikan cara mengajar dan dokumen pembelajarannya. Jika ada yang belum sesuai, inspector akan memberikan revisi dan perbaikan.

Seorang guru tidak boleh langsung mengajar walaupun dia sudah lulus tes sebagai guru, 1 tahun pertama masih berperan sebagai asisten seorang guru pamong. Sama dengan system yang sudah diberlakukan di Indonesia. Jika yang bersangkutan sudah dinilai layak maka dia bisa mengajar pada tahun berikutnya.

Jika di Indonesia sebelum pembelajaran dimulai ada persiapan dulu, kemudian berdoa, disini langsung membahas tentang pelajaran dan me-review materi pertemuan sebelumnya. Jika sudah tidak ada pertanyaan yang perlu dibahas, sang guru langsung memulai materi baru pada hari itu.

Setiap siswa diwajibkan mempunyai filing-map untuk masing-masing guru. 1 guru 1 filing-map untuk siswa. Isinya seputar rekaman selama proses pembelajaran. Mulai dari job sheet, tugas-tugas yang harus dikerjakan, sampai dengan progress materi ajar yang akan dicapai dalam 1 semester.

Filing-map ini sangat penting untuk siswa, karena salah-satu sumber penilaian guru  berasal dari kumpulan-kumpulan dokumen ini. Form-form dokumen sudah diberikan oleh guru ketika awal semester. Siswa berkewajiban untuk menulis semua praktek yang dia kerjakan lengkap dengan hari, tanggal, bulan dan tahunnya.

Filing-map itu berfungsi sebagai control process selama pembelajaran berlangsung. Jika di Indonesia biasanya control proses dipegang oleh guru, biasanya berbentuk absensi siswa, nilai harian dan UTS dan UAS, disini semua dokumen itu ada pada siswa. Pertanyaan yang muncul bagaimana cara menjamin validitas datanya?

Sang guru ternyata juga punya record aktifitas siswanya Cuma tidak sedetil data yang ada di filing-map. Untuk materi ajar, guru dan siswa mempunyai akun sendiri untuk masuk dijaringan sekolah (jaringan client dan server). Hampir tidak ada buku dalam bentuk print out, karena semua panduan sudah bisa didapat ketika guru/ siswa login pada akunnya masing-masing.

Sekolah mempunyai jaringan client-server yang berfungsi sebagai sarana pendukung dalam proses pembelajaran. Sayangnya untuk manajemen evaluasi masih manual tidak terintegrasi dengan dalam sebuah system akademik. Banyak ujian yang masih menggunakan kertas, padahal jika disediakan software khusus untuk ujian tentunya akan banyak efesiensi, terutama penggandaan soal pada saat ujian sekaligus koreksi akan cepat dan akurat.

Mekanisme pengadaan sarana untuk manajemen terkomputerisasi seperti tersebut diatas dibawah kendali dinas pendidikan setempat. Sekolah tidak belanja sendiri untuk memenuhi kebutuhannya, semua sudah diatur dan dikelola oleh dinas. Sebelum pengadaan, dinas sudah menganalisa kebutuhan tiap-tiap sekolah untuk kemudian memutuskan spesifikasi perangkat yang akan digunakan.

Fasilitas sekolah disediakan sesuai dengan standart aman efiesien. Jika ketersediaan Wi-Fi pada suatu tempat di Indonesia menjadi suatu keunggulan dan nilai tawar sungguh berbeda dengan di Prancis. Pemancar nirkabel ini jarang ditemukan, walaupun ada di beberapa public area misalnya bandara hanya dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. Alasannya sederhana, kesehatan.

Apalagi di lembaga-lembaga pendidikan, hampir tidak ada sama sekali jaringan WiFi. Jaringan internet langsung dihubungkan dengan kabel LAN (Local Area Network). Hampir semua computer terhubung dengan internet. Setiap laboratorium yang disediakan computer setiap saat sudah bisa online. Sehingga dalam beberapa pelajaran siswa bisa mengeksplorasi diri dengan pengetahuan tambahan diluar materi kelas.

Bisa dipastikan didalam ruang guru terdapat computer dan jaringan internet juga. Biasanya fasilitas ini digunakan pada saat istirahat dan dalam rangka mempersiapkan bahan ajar. Tapi kebanyakan guru lebih senang mempersiapkan diri dirumah mereka masing-masing.

Bukan hanya WiFi yang dilarang, minuman dan makanan yang tidak menyehatkan juga dilarang dijual di dalam lingkungan sekolah. Tidak ada orang jualan makan di pintu-pintu pagar sekolah. Semua terlokalisir di kantin yang dikelola oleh sekolah. Sehingga kualitas makanan bisa control dengan baik.

Ternyata pemerintah Prancis sangat peduli kepada akan kesehatan warganya. Terutama mereka yang masih duduk dibangku sekolah, yang merupakan pemegang tongkat estafet kepemimpinannya di masa yang akan datang.

About Light 4 All

Berbagi untuk Bersama

Posted on August 27, 2015, in Inspirasi Kita, Perjalanan ke Perancis. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Memberikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s