Live from France (15) Reaktor Nuklir

Ketika beberapa hari sebelumnya Mr. Pinel Didier menawari kami untuk berkunjung ke Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir, di daerah Dieppe. Tanpa ba bi bu kami langsung mengiyakan. Lokasinya dekat pantai, airnya tampak biru dan sebagian bening dilihat dari kejauhan.

Begitu turun dari mobil kami disambut angin kencang dan udara dingin. Melangkah terburu-buru menuju bangunan yang sangat sepi. Ketika pintu kami dorong 2 wanita datang menyambut. Dengan bahasa Prancis Mr. Didier menjelaskan maksud kedatangan kami ke tempat itu. Tidak lama kemudian diarahkan ke sebuah ruangan mirip aula. Tampaknya ruangan itu biasa di gunakan untuk acara-acara seremonial.

Sebelum melihat ke lokasi nuklir, kami di ‘ceramahi’ tentang instalasi nuklir, perusahaan pengembang dan tidak lupa pengamanan limbah indsutri yang dihasilkan. Ternyata tidak ada limbah yang berbahaya jika semua ‘aturan main’ dijalankan dengan benar. Ketika mendengar kata Nuklir, seolah-olah menakutkan dan bisa membumi hanguskan sebuah kota, tetapi ternyata jika dimanfaatkan dengan benar justru akan membantu memenuhi kebutuhan manusia: Listrik.

Sering muncul di televisi, nuklir mempunyai dampak negativ, karena adanya radioaktif yang terkandung didalamnya, zat ini sangat ampuh dan dahsyat jika digunakan sebagai bahan peledak. Sama halnya dengan senjata, jika digunakan oleh perampok akan berfungsi sebagai pembunuh. Akan tetapi jika dipegang oleh polisi akan berfungsi untuk membrantas kejahatan. Itulah kesimpulan pertama yang kami dapatkan dalam pertemuan itu.

Bayangkan, 1 butir uranium ukuran 1 cm dengan berat 7 gram bisa mewakili 100 ton batu bara. Lompatan teknologi yang luar biasa. Dalam pengamanan terutama untuk menghindari pencemaran lingkungan, pada PLTN (Pembangkit Tenaga Listrik Tenaga Nuklir) berlaku prinsip defence in depth (pengamanan berlapis). Prosedur pengamanan yang berlaku untuk manusia dan lingkungan.

Di Eropa, Prancis ada diurutan pertama dalam penggunaan enegi nuklir sebagai pembangkit listrik, disusul Lithuana dan Slovakia. Sedangkan di PLTN Dieppe ini terdapat 2 unit dengan kapasitas 1.300 MW per unit. Pengamanannya sangat rapat. Semua orang (tidak perduli orang baru atau karyawan) harus melewati pos-pos pengamanan yang dijaga ketat. Hampir sama dengan system pengamanan di bandara, pertama kami harus melepaskan benda-benda yang terbuat dari logam. Kemudian, pemeriksaan identitas. Passport dijadikan syarat utama untuk memperoleh ID Card dan Password.

Setiap pintu masuk terdapat scanner id dan keyboard input password. Jika ID dan Passwordnya cocok pintu akan otomatis terbuka. Sebelum naik kereta listrik yang menghubungkan ruang pemeriksaan dan lokasi reactor nuklir, kami harus melewati ruang pemeriksaan radio aktif untuk memastikan dalam keadaan steril. Pemeriksaan ini dilakukan sebelum dan sesudah kunjungan (dari lokasi pembangkit).

Gerbong kereta listrik sama ukurannya dengan lift, tidak berisik dan halus. Kereta ini juga digunakan untuk antar jemput karyawan. Turun dari kereta listrik kami harus melewati 1 pintu, agar bisa masuk harus memasukkan kembali ID dan Password lagi.

Barulah bisa kami lihat 2 kubah raksasa berdiri dengan gagahnya, itulah reaktor nuklir. Tapi sayangnya kami tidak diperbolehkan masuk ke ruang itu karena alasan keamanan, selain itu didalamnya sangat panas. Untuk memasuki tahap selanjutnya, kami harus mengenakan pengaman berupa helm, tutup telinga (yang juga berfungsi sebagai alat komunikasi) dan kacamata.

Sayangnya tidak diperbolehkan mengambil gambar. Semua peralatan kami sudah harus ditanggalkan diruang pemeriksaan. Banyak hal-hal menarik yang bisa menjadi dokumentasi kami untuk mengetahui lebih jauh tentang  PLTN.

Saatnya kami masuk pada pintu terakhir yang berdekatan langsung dengan pintu masuk generator, kembali harus memasukkan

ID dan Password. Seandainya hanya kami yang harus melalui prosedur ini, mungkin pantas merasa dicurigai. Ternyata semua prosedur ini harus diikuti oleh semua orang yang mau melewati setiap pintu. Baik karyawan ataupun tamu.

Tidak ada bunyi yang bisa kami dengar kecuali deru generator yang bising. Untungnya sudah pake pengaman telinga. Guide yang memandu kami menjelaskan satu persatu. Dengan menggunakan bahasa Inggris penjelasannya sangat detail. Mulai dari pemanas yang menghasilkan uap, bagaimana air dibuang kembali ke laut. Serta prosedur jika ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Karena bahasa inggris tampaknya juga bahasa ke-2 bagi dia maka harus berusaha keras untuk menjelaskan. Padahal seandainya kami bisa berbahasa Prancis dengan lancar tentunya informasi yang diberikan akan tambah komplit dan jelas.

Turbin dan generator telentang bagaikan botol raksasa. Dengan panjang 70 m dengan pipa-pipa ukuran raksasa disekitarnya, keberadaan kami seolah-olah sangat kecil nan berarti. Apalagi suara keras bising mengganggu pendengaran menambah rasa seolah hilang. Ini baru suasana PLTN.

Tidak banyak ruangan yang bisa kami kunjungi. Hanya ruang utama yang menggambarkan bagaimana proses PLTN ini dari reactor yang menghasilkan uap, kemudian dan system pemanas dan system pendingin. Dan proses bagaimana uap memutar turbin untuk selanjutnya memutar generator yang akan menghasilkan listrik.

Tidak jauh berbeda dengan pembangkit listrik lainnya. Kalau PLTN menggunakan uranium sebagai bahan bakar. Bukan gas atau batubara.  Justru bahan bakar utama inilah yang menarik dan powerfull.

About Light 4 All

Berbagi untuk Bersama

Posted on August 27, 2015, in Perjalanan ke Perancis. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Memberikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s