Live from France (16) 125 Sapi Cukup 5 Orang

Pada hari jumat kemarin kami sampai rumah jam 17.30. dan pada jam 18.00 langsung ‘diculik’ oleh The Firstman of Anglesqueville (Pak Lurah) dibawa ke peternakan sapi kira-kira 1 km dari tempat kami tinggal. Ada 125 sapi disana, uniknya hanya butuh 5 orang untuk mengurus. Sapi yang sudah siap diperah susunya digiring di tempat khusus pemerahan. Dengan alat yang serba otomatis sapi-sapi itu diperah, dilakukan 2x sehari. Untuk 100 sapi hanya dibutuhkan 1 jam : Luar biasa cepat.

Susu yang sudah diperah langsung mengalir ke tempat penyaringan untuk kemudian diolah menjadi mentega, yougut dan susu murni. Packaging-nya juga dilakukan dengan alat yang praktis dan efesien. Sang pemilik menjelaskan panjang lebar tentang peternakannya. Dia sangat welcome dan friendly. Malah kami diberi beberapa hasil produksi secara gratis untuk dikonsumsi.

Untuk mendapatkan informasi yang jelas selama kunjungan, Erick mengajak Vincent (temannya Paul, anak Erick yang pertama). Dia Master Bahasa Inggris dan juga guru Bahasa Inggris. Karena terus terang bahasa Prancis kami belum pada level penguasaan detail, apalagi bahasa-bahasa teknis dengan istilah khusus pertanian. Vincent-lah yang membantu menjelaskan semua proses di peternakan itu.

Tidak hanya Paul dan Erick, dalam kunjungan kami 3 perangkat desa juga ikut serta. Itu mungkin sekaligus sebagai perkenalan kami dengan perangkat desa. Salah-satu perangkat desa itu ada seorang dokter, dia sangat antusias dengan kedatangan kami. Karena bisa berbahasa Inggris juga menjelaskan beberapa hal terkait dengan pola makan dan jenis makanan yang dikonsumsi sapi-sapi itu.

Jelas kami heran dan takjub, 125 ekor sapi hanya diurus oleh 5 orang. Mulai dari pemerahan susu, penyaringan, mengolah jadi produk yang siap pakai dan Packaging (pengemasan). Tapi kami lupa bertanya apakah 5 orang itu juga yang mencari makan dan membersihkan kandang sapi yang begitu luas. Kalaupun demikian, tampaknya sangat memungkinkan mengingat semua pekerjaan tidak dilakukan secara manual. Membersihkan kotoran sapi pun menggunakan mesin perbersih khusus, yang memungkinkan 1 orang membersihkan kandang selesai dalam hitungan menit.

Selain rumput dan buah sejenis kentang, ada konsentrat yang terbuat dari buah colza sebagai asupan gizi sapi. Normandie memang the earth of colza. Dimana-mana terlihat banyak colza ditanam. Tumbuhan ini multi fungsi, selain untuk makanan juga bisa menjadi bahan utama petrol. Baunya yang menyengat sudah menjadi ciri khas utama tanaman ini, tapi ketika sudah menjadi minyak goreng sungguh sangat gurih barunya.

Warna kuning bak bunga matahari akan tampak merekah mendekati masa panen. Berarti sudah terdapat tetesan minyak didahannya. Dan berarti sudah menghitung hari, menanti saat-saat dipanen. Petak sawah di Normandie sangat luas dan rata. 1 hektar bisa menjadi hanya 2 petak bahkan 1 petak saja. Hal ini juga memudahkan alat-alat pertanian beroperasi tanpa hambatan. Beda dengan dengan kebanyakan kontur sawah di Indonesia yang cenderung kecil-kecil dan tidak merata.

Makanya timbul pertanyaan dalam hati kami: Bisakah alat-alat pertanian sebesar ini digunakan di Indonesia?

Setelah dikira cukup, kami langsung meluncur ke area pertanian khusus kentang. Lokasinya kira-kira 3 km dari lokasi peternakan sapi. Kembali kami dibuat takjub, dengan luas dan peralatan yang digunakan di kebun kentang ini. Jumlah karyawannya 8 orang, tapi hanya 5 orang yang standby. 3 orang lainnya hanya membantu ketika panen tiba.

Dengan lahan 80 hektar proses persiapan tanam dan pemeliharaannya hanya dikerjakan oleh 5 orang. Serasa tidak mungkin, tapi keraguan kami itu langsung sirna ketika mereka menunjukkan satu alat pemotong (memotong daun-daun kentang yang siap panen). Awalnya terlihat seperti sayap-sayap robot di film transformer. Sayap-sayap itu bisa berkembang selebar 45 meter, setiap bagian sayap dengan jarak 10 cm terdapat pipa kecil saluran air. Ternyata selain untuk memotong alat ini juga berfungsi untuk menyiram.

Jadi, 1 kali jalan alat ini sudah bisa menyiram/ memotong dengan luas 36 meter. Untuk memotong/ menyiram lahan seluas 3600 x 2 m hanya dibutuhkan 1 x PP (pulang pergi) jika 1x jalan menempuh 100m. Tidak hanya itu, alat ini bekerja sendiri tanpa seorang sopir. Dengan dilengkapi GPS (Global Positioning System) dia bisa bekerja sendiri dengan akurasi yang tepat sudut mana yang harus dikerjakan dan mendeteksi lahan mana yang sudah selesai.

Setelah itu kami diajak masuk ke tempat pencucian kentang. Serba elektrik hanya dibutuhkan 1 orang operator untuk membersihkan puluhan ton kentang. Alat ini sudah bisa menyortir ukuran kentang. Dikelompokkan berdasarkan besar kecilnya. Setelah itu langsung terhubung dengan pengemasan. Tapi sebelum dikemas, ada 1 orang yang bertugas mengawasi jalannya kentang di konveyor dan mengambil kentang yang lecet atau luka.

Konveyor berakhir di terminal berbentuk kotak ukuran 1,5 m² dengan tinggi 2 m, dilengkapi tangan robot dengan lincahnya menata tumpukan kentang siap didistribusikan dengan tinggi tumpukan 1,5m. sebelum diisolasi keruang stok, setiap tumpukan diikat dengan tali halus terbuat dari nilon, lagi-lagi tidak dikerjakan manual, tapi otomatis memutar dan berhenti ketika seluruh bungkusan kentang terikat kuat.

Selanjutnya, 1 orang mengangkut (dengan forklift) kentang-kentang ini ke sebuah ruang isolasi ukuran 10 m. Sangat dingin, udara dibuat 7° sampai 10° CC untuk menjaga agar tidak busuk sebelum terdistribusi.

Lahan pertanian kentang ini menghasilkan 3 sampai 4 ton per tahun. Dikerjakan 8 orang. Sungguh luar biasa. Bisakah model pertanian seperti ini diterapkan di Indonesia? Apakah Indonesia akan lebih eksis sebagai Negara agraris yang ber-swasembada pangan? Atau justru akan menambah angka pengangguran karena semua sudah dikerjakan oleh mesin? Itulah pertanyaan yang muncul dihati ketika perjalanan pulang.

About Light 4 All

Berbagi untuk Bersama

Posted on August 27, 2015, in Perjalanan ke Perancis. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Memberikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s