Live from France (18) ANGIN BERHEMBUS MEMBAWA HARAPAN

Jika satu pintu sudah tertutup, masih ada pintu-pintu lain yang dibukakan. Tapi kebanyakan dari kita selalu terpaku pada satu pintu itu sehingga tidak bisa melihat pintu lain yang terbuka. Allah memberikan masalah pada suatu kaum sudah pasti karena kaum tersebut mampu mengatasi. Dan belajar pada para pendahulu, orang-orang yang telah berjuang mencerahkan bangsanya lewat pendidikan merupakan suatu keniscayaan, sebagai referensi untuk membangun dimasa yang akan datang. Seperti yang kami lakukan dalam 2 hari ini, bertemu dengan Pejuang Sekolah Kejuruan di Indonesia: Bagiono Djojo Sumbogo.

Setelah istirahat sejenak sekitar jam 20.00 pertemuan dilanjutkan di tempat kami sekalian makan malam. Tampaknya Pak Bagiono sangat senang sekali dengan masakan kami, entahlah mungkin karena selama 20 hari sudah selalu disuguhi masakan Eropa jadi kangen sama masakan Indonesia. Menu kami malam ini sangat sederhana: Telor bumbu Bali. Ditemani kerupuk dan buah pisang.

Kami tidak pernah menyangka kalau mantan atase pendidikan di kedutaan Prancis ini tahu banyak tentang wine. Beliau juga bercerita tentang cara pengolahannya, jenis dan macam-macam aromanya. Juga bagaimana cara mengetes kualitas wine hanya dengan sedikit mengocok di gelas yang agak lengkung. Maklum beliau juga ketika menjadi mahasiswa di Marsaille sempat menghabiskan masa liburan dengan memetik bunga. Selain untuk menambah uang saku sekaligus cara efektif belajar budaya penduduk setempat.

Ketika kami suguhkan air putih beliau tidak langsung minum, tapi menjelaskan bahwa: Masyarakat Prancis bisa menuntut pihak PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) setempat jika air yang disalurkan ke rumah-rumah mengandung penyakit. Sudah dijamin steril melalui uji lab. makanya jarang di Prancis terlihat gallon air minum dirumah mereka, tapi langsung mengkonsumsi dari air kran.

Setelah acara makan malam selesai, beliau membahas tentang tugas presentasi kami pada acara Worksho pendidikan yang diadakan pada tanggal 3 dan 4 Juni di Fecamp. Dimulai dari pembahasan tentang Teacher Exchange Indonesia dan Prancis. Keduanya harus sama-sama saling menguntungkan. Diharapkan setiap pemberangkatan guru membawa target yang spesifik dan konkrit. Pun juga, pihak Prancis ketika berkunjung (magang) di Indonesia harus ada value-added yang bisa dibawa pulang. Tentunya sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.

Kemudian dalam acara tersebut kami juga harus mempresentasikan pengalaman selama magang di Prancis. Hal ini penting sebagai bukti konkrit apa yang kami dapatkan selama 3 bulan di negeri Napoleon ini. Pengalamannya harus utuh berdasarkan daya tangkap masing-masing individu sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajari . Ini juga sebagai acuan sustainability kerjasama ini selanjutnya.

Pembahasan selanjutnya mengenai SMK 4 tahun. Beliau menjelaskan bahwa SMK 4 tahun ini bukanlah 3 + 1 (3 tahun disekolah 1 tahun di Industri). Tapi 4 tahun utuh dilaksanakan disekolah dengan acuan kurikulum yang dirancang khusus. Dan juga tidak semua jurusan ideal menggunakan 4 tahun. Bahkan sangat mungkin jurusan tertentu hanya 2 tahun misalnya tata boga. Atau juga 3 tahun, semuanya tergantung kebutuhan standar kompetensi yang akan dicapai.

Pada saat yang sama beliau juga menekankan bahwa SMK 4 Tahun yang dulu telah dipelopori oleh STM Pembangunan Semarang sudah layak pakai, artinya sudah terbukti melahirkan lulusan yang telah berada di perusahaan-perusahaan strategis misalnya di Garuda. Dan yang lebih penting lagi adalah goal yang diinginkan harus bisa memenuhi tuntutan kerja dan pelestarian.

Dari cara menjelaskan sangat kelihatan sekali kalau waktu itu (tahun 1970 an) beliau yang meng-create dan sekaligus eksekutor konsep SMK 4 tahun ini. Juga tidak lepas dari sejarah didirikannya PPPPTK (Pusat Pengembangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan). Lembaga khusus untuk mempersiapkan pendidik di sekolah-sekolah kejuruan. Namun dalam perkembangannya PPPPTK menjadi beralih fungsi karena kehilangan induk semangnya.

Lembaga yang telah melahirkan dan membesarkannya yakni Dikmenjur. Akhirnya aktifitas di lembaga yang lebih familiar dengan VEDC ini mulai pudar warnanya. Namun sejak di angkatnya mantan direktur VEDC Malang Drs. Mustaghfirin Amin, MBA menjadi Direktur PSMK angin baru berhembus membawa harapan lembaga yang telah bekerja sama dengan beberapa pendidikan di Eropa ini kembali ke khittahnya: Pencetak tenaga pengajar untuk sekolah kejuruan.

Memang menyimak bincang santai dengan orang yang telah banyak makan garam kehidupan waktu yang lama terasa sangat singkat sekali. Tanpa terasa sudah jam 23.00, tapi obrolan kami masih hangat terasa. Pak Bagiono diusianya yang sudah berkelapa tujuh masih sangat antusias dan bersemangat. Hembusan semangat itu menginduksi kepada kami generasi muda yang akan meneruskan perjuangan beliau dengan model yang berbeda.

Karena waktu sudah larut dan besok kami harus kunjungan di SMK Maritim dengan sangat terpaksa diskusi itu kami akhiri. Dengan harapan besok bisa melanjutkan kembali disela sarapan pagi sebelum berangkat kunjungan.

About Light 4 All

Berbagi untuk Bersama

Posted on August 27, 2015, in Perjalanan ke Perancis. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Memberikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s