Live from France (20) Tidak ada ‘Damai’ di Prancis

Udara dingin, sangat dingin. Tapi fajar sudah merekah, mengajak kami untuk menghempaskan selimut. Beranjak menunaikan tugas-tugas yang sudah menanti. Kedinginan itu menjadi komposisi yang pas untuk bermalas-malasan, apalagi dalam benak sudah terbayang aktifitas dari pagi sampai hampir malam. Serasa indah dan nyaman jika bersembunyi dibalik selimut. Tapi akankah hari-hari ini selalu dihiasi dengan selimut?

Bagi kami dingin itu satu tantangan yang harus dihadapi, bukan halangan untuk beraktifitas tapi justru sebagai uji nyali seberapa besar keinginan kami untuk belajar. Dalam benak selalu kami tanamkan: semakin tinggi kita naik semakin kencang pula angin menerjang. Ini merupakan tahapan perjuangan, kami tidak boleh kalah: harus menang!

Sebenarnya bukan karena banyaknya aktifitas yang membuat kami capek, tapi banyaknya energy yang dikeluarkan untuk melawan cuaca yang sangat dingin. Maklum, sudah terbiasa dengan cuaca 25 – 30° disini harus berhadapan dengan cuaca 7° sampai 11°. Apalagi ditambah hembusan angin yang sering kali kencang menerjang.

Kicauan burung seolah mengejek kami, membangkitkan semangat kami. Menghentakkan jiwa kami. Mereka makhluk tidak berakal mampu konsisten dengan aktifitasnya. Selalu bangun pagi tepat waktu, kemudian mencari makan untuk hari itu. Mereka tidak pernah menyiapkan makan, mereka mencari makan untuk hari yang sama. Sementara kami makhluk berakal, makanan sudah tersedia masa tidak bisa lebih konsisten daripada burung.

Itulah perasaan yang selalu berkecamuk setiap pagi saat kami ingin memulai aktifitas. Sebenarnya, jika sudah beraktifitas menuju lokasi magang dingin itu sudah pergi. Dalam pikiran kami hanya ada pengamatan dan praktek. Berusaha memahami setiap proses yang berlangsung, karena tidak semua punya kesempatan yang sama.

Sesekali membandingkan dengan system yang berlaku di Indonesia. Pastinya ada kekurangan dan kelebihannya. Tidak semua yang ada di Prancis itu baik, tapi sungguh sangat banyak hal yang bisa dicontoh dan diterapkan di Indonesia. Misalnya ketertiban lalu lintas, umumnya kendaraan di jalur kanan prioritas. Jika pada saat yang bersamaan ada 3 kendaraan yang akan melintas di perempatan maka kendaraan dari arah kanan yang didahulukan, dua kendaraan lainnya akan setia menunggu.

Jika ada pejalan kaki yang akan melintas semua kendaraan harus berhenti untuk mendahulukan. Pertama kami juga heran sebegitu tertibkah orang Prancis? Sampai mereka harus berhenti dimalam hari saat tidak ada orang satupun di lampu merah. Padahal tidak ada polisi berkeliaran, mengintai dan mengintip pengendara seperti di Indonesia. Apalagi menilang dan ‘berdamai’, tidak akan pernah ditemui.

Ternyata rahasianya terletak pada system yang diterapkan. Sebagai manusia biasa kecenderungan untuk melanggar aturan pasti ada, walaupun orang tentu akan lebih nyaman dan tenang ketika selalu pada garis aturan yang berlaku. Tapi seberapa besar kesadaran masyarakat untuk mematuhi aturan itulah poin pentingnya.

Jika terjadi pelanggaran lalu lintas, pengendara diharuskan membayar denda. Misalnya menerobos lampu merah dendanya 90€ (Rp. 1.260.000 jika kurs rupiah 14.000). Ada 2 cara pembayarannya: Membeli prangko dengan harga yang sudah ditentukan. Prangko ini tersedia khusus ditempat-tempat umum. Atau membayar menggunakan kartu kredit. Tidak ada tawar menawar apalagi ‘berdamai’.

Dalam waktu 1 minggu akan ada surat pemberitahuan pelanggaran dan nominal yang harus dibayarkan. Jika dalam 3 minggu tidak membayar denda yang telah ditentukan pada minggu berikutnya akan bertambah 2x lipat dan begitu seterusnya. Pertanyaannya bagaimana petugas tahu ada pelanggaran? Disetiap tempat-tempat strategis ada kamera yang selalu standby  merekam para pengendara.

Dengan sistem yang otomatis merekam semua pelanggaran lalu lintas. Petugas hanya duduk manis memantau setiap pelanggaran itu. Sistem semacam ini memaksa untuk dipatuhi. Karena sudah berjalan puluhan tahun akhirnya terbangun sebuah kesadaran yang berawal dari keterpaksaan ini.

About Light 4 All

Berbagi untuk Bersama

Posted on August 27, 2015, in Inspirasi Kita, Perjalanan ke Perancis. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Memberikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s