Live from France (9): Printer 3 Dimensi

Sumber gambar: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/f8/Reprap_Darwin.jpg

LE HAVRE – 3D Printer adalah teknologi baru yang mulai digunakan di banyak Negara maju. Sebenarnya teknologi ini sudah ada sekitar tahun 2003 tapi penggunaannya masih terbatas karena harganya yang relative mahal. Dan mulai booming di tahun 2014 karena sudah bisa didapatkan dengan
biaya terjangkau.

Mikrokontroller sebagai otaknya, berfungsi sebagai penerjemah perintah dari computer ke mesin printer. Jika membuatnya secara manual masih membutuhkan ADC (Analog Digital Converter) tapi jika tidak ingin repot langsung menggunakan Arduino. Hal itulah salah-satu yang menarik dalam rangkaian kunjungan ke Lycee di daerah Le Havre.

Pada hari yang sama (Pertemuan dengan para Head Master) kami langsung menuju Lycee Jules Seigfried terletak di daerah Le Havre, dipandu langsung oleh Hamid Wardi seorang staf berkebangsaan Maroko. Pada saat kami datang beberapa siswa memperagakan kelihaiannya dalam merangkai 3D Printer sekaligus mencobanya dihadapan kami.

Istimewanya, alat itu diperoleh bukan dari pabrik akan tetapi rakitan mereka sendiri. Alur kerjanya sangat sederhana, user mendesain produk yang akan di print dengan software grafis(Misalnya: CAD dan 3D Modelling), rata-rata under windows. Bahan dasar yang akan di print (dibentuk) berupa kepingan logam, alumunium, plastic dan bisa juga kayu, tinggal dipilih sesuai dengan keinginan. Setelah semua persiapan dirasa cukup, perintah printing tinggal dieksekusi seperti layaknya ng-print di kertas. Hasilnya bisa berupa replika atau produk apapun sesuai desain.

Alat ini merupakan perpaduan antara elektro mekanik dan baris kode program, sama dengan cara kerja pada system robotic. Namun tentunya didesain sesuai dengan kebutuhan 3D printing. Teman kami yang pada waktu mengamati secara detail alat itu langsung manggut-manggut, pertanda faham. “Tidak yang beda, hanya kreasi saja”. Katanya.

Kami juga diajak melihat laboratorium jaringan computer. Begitu masuk ruang Lab. Dihadapan kami tampak perangkat jaringan yang sudah didesain standart industry, bukan hanya sekedar simulasi tapi sudah dikondisikan seperti real industrial manufactory. Jaringan FO (Fiber Optic) yang bahannya sangat mahal juga dijadikan praktek siswa di laboratorium ini.

Fusion Splicer adalah alat penyambung serat optic yang harganya sangat mahal. Alat ini hampir sama fungsinya dengan Crimper pada kabel LAN dan RJ45. Di Indonesia hanya beberapa sekolah yang punya, itupun dalam jumlah yang sangat terbatas. Di Lab. Jaringan ini banyak tersedia sebagai bahan praktek.

Masih di daerah Le Havre, kami juga mengunjungi Lycee Schuman-Perret. (tobe continued)

About Light 4 All

Berbagi untuk Bersama

Posted on August 27, 2015, in Perjalanan ke Perancis. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Memberikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s