Live From France (7) Lycees de Fecamp II

FECAMP – Makan siangpun tiba, banyak siswa dan guru berbaur jadi satu di kantin sekolah. Penjaga kantin berpakaian layaknya seorang koki professional. Tidak lupa mereka juga menyunggingkan senyum disela-sela
kesbibukannya.

Para guru dan siswa berbaris rapi di garis antrian mereka. Tidak ada yang minta didahulukan walaupun di depannya hanya murid-murid mereka. Mereka menghargai siapa yang datang lebih awal.

Keteraturan dan ketertiban seperti juga terlihat ketika dijalan raya. Arah kanan adalah prioritas. Di persimpangan jalan ada traffic light-nya atau tidak mereka berhenti saat lampu merah (ada mobil lain atau tidak). Jika kebetulan di persimpangan itu tidak ada lampu merah merekapun berhenti dan arah kanan menjadi prioritas. Tidak hanya itu, pengendara mobil pada umumnya mendahulukan pejalan kaki.

Serba kanan, jadi ingat ide Ippho Santosa, bahwa semua berawal dari kanan. Kreatifitas yang unik dan menarik biasanya dari otak kanan. Pemimpin supel dan visioner kebanyakan focus pada otak kanan. Dan Rasulullah-pun mengajari kita untuk memulai sesuatu dari yang kanan.

Hal unik lain di sekolah ini adalah system control atasan pada bawahan. Jika di Indonesia keberadaan CCTV menjadi suatu keunggulan suatu sekolah justru di Lycees de Fecamp adalah sesuatu yang dilarang. Menurut Pinel Didier – The Head Master of Lycees de Fecamp, teacher is the king of the class. Kreasi dalam pembelaran sepenuhnya hak guru dikelas, justru ketika dipantau melalui CCTV seolah mengurangi hak mereka dalam memanage kelas.

Kemudian kami mampir ke sebuah kelas untuk melihat cara mereka mengajar. Kami dibuat terpana dengan fasilitas yang ada di dalam kelas. Kebetulan pelajaran Fisika sedang berlangsung di kelas itu. Setiap siswa berhadapan dengan 1 komputer. Di masing-masing meja siswa terdapat seperangkat equipment tool for eksperimen, misalnya osiloscope. Kami membayangkan seandainya fasilitas seperti itu ada disetiap sekolah-sekolah di Indonesia.

Cara berpakaian siswa tidak ada aturan khusus, yang penting sopan dan rapi. Sebagaimana kami katakana diawal bahwa di Prancis tidak ada seragam disekolah. Kebanyakan mereka menggunakan seragam sesuai dengan cuaca. Jika dalam keadaan dingin tentunya pakaian mereka tebal-tebal. Cuaca disini jauh beda dengan di Indonesia yang banyak menggunakan AC diruangan untuk menstabilkan suhu: diluar panas dan didalam ruangan ber-AC terasa dingin. Disini berlaku sebaliknya, didalam ruangan kami merasakan kehangatan sedangkan diluar jauh lebih dingin karena suhu bisa mencapai 8° – 15°C.

Tidak heran jika banyak terlihat orang-orang berjemur walaupun tengah hari. Seperti ini biasa dilakukan oleh siswa-siswi yang sedang istirahat atau menunggu pelajaran selanjutnya.

About Light 4 All

Berbagi untuk Bersama

Posted on August 28, 2015, in Perjalanan ke Perancis. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Memberikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s