Perjalanan Pagi bag. 2

Dinginnya pagi tak menyurutkan Andi berangkat kerja, justru ketika hari ini diawali dengan semangat dan gairah menggapai ridho-Nya insya-Allah hari ini akan lebih baik daripada hari kemarin. Seperti biasa Andi berusaha berangkat lebih pagi agar tidak buru-buru dijalan.

Udara pagi segar terasa, sang mentari masih malu-malu menampakkan wajahnya. Malu pada sang rembulan yang mulai beranjak keperaduannya. Matahari dan rembulan adalah lambang malam dan siang. Keduanya tiada pernah lelah menjalankan tugas dari Tuhan-nya. Malam yang gelap gulita, menjadi indah ketika sang rembulan tersenyum cerah. Malam yang mencekan serasa indah ketika dia hadir dengan purnamanya. Walau mentari panas menyengat, tapi betapa bermanfaatnya dia untuk keberlangsungan hidup dimuka bumi. Banyak proses alam akan terganggu ketika mentari berhalangan hadir. Kekurangan sinar matahari akan mengganggu proses fotosintesis pada tumbuhan, dan manusia akan kekurangan vitamin D, pembentukan tulangnya akan terganggu dan banyak manfaat lainnya. Bisa dibayangkan jika 1 hari saja mentari ijin untuk tidak  terbit, bumi ini akan on the frozen. Beku, bisu.

“Alhamdulilah”, gumamnya. Sambil menikmati indahnya pagi ini. Di jalan sempal wadak, ada banyak kerumunan orang dipinggir jalan. Andi tetap saja melaju, karena memang biasanya daerah itu kalau pagi rame, banyak orang mengantar anaknya sekolah. Tapi Andi kaget ketika di sisi kanan jalan ada orang digotong, dijalan ada banyak berkas darah, kecelakaan!! Baru saja terjadi kecelakaan, dari arah depan mobil patroli polisi datang. Sebenarnya Andi ingin berhenti sejenak untuk melihat siapa yang kecelakaan barangkali ada yang bisa dibantu, atau temannya yang kecelakaan. Tapi niat itu diurungkan, karena sudah banyak orang yang berjubel melihat kecelakaan itu. Dia terus melaju dengan sepedanya, sambil memanjatkan doa dalam hati, semoga dihindarkan dari kecelakaan dan selalu dianuderahi kesehatan lahir batin.

Sampai ditempat kerja MSG (Morning Spritual Gathering) masih kurang 10 menit. Tidak lama kemudian MSG-pun dimulai. Pemateri datang dengan Kitab Riyadhusshalihin ditangannya. Kitab karangan Imam Nawawi ini memang selalu dijadikan materi utama di MSG. Kebetulan pemateri selalu membawakannya dengan terjemahan perkata. Tidak melalui kitab terjemahan. Tapi menelaahnya per kalimat, sehingga posisi mubtada khobarnya ketemu, susunan fail maf’ulnya jelas, dhamirnya, na’at man’utnya. Memang itulah kelebihan orang yang bisa membaca kitab langsung perkalimat, tidak berdasarkan terjemahan, lebih bisa menyajikan hadits yang terkandung dalam kitab ini dengan gamblang sesuai dengan yang dimaksud.

Beda memang mengartikan ayat atau hadits hanya dari terjemahan dengan menerjemahkan sendiri perkalimat dengan mengetahui nahwu sharraf.

Dari Buraidah r.a., katanya: “Nabi s.a.w. mengajarkan kepada mereka – para sahabat – jikalau mereka keluar berziarah ke kubur supaya seseorang dari mereka mengucapkan – yang artinya: “Keselamatan atasmu semua hai para penghuni perkampungan-perkampungan – yakni kubur-kubur – dari kaum mu’minin dan Muslimin. Sesungguhnya kita semua Insya Allah menyusul engkau semua. Saya memohonkan kepada Allah untuk kita dan untukmu semua akan keselamatan.” (Riwayat Muslim)

Itulah mautiara hadits yang disampaikan pagi ini.

Rosulullah pernah melarang untuk berziarah ke kuburan, waduh sebabnya lupa nech hehehe… kalo ga salah karena pada waktu itu masih banyak orang yang ke kuburan untuk meminta-minta, mengarah ke kemusyrikan, yakni dengan meminta pada orang yang telah mati. Maka ada hadits:

Dari Buraidah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Saya telah  pernah  melarang engkau  semua perihal ziarah kubur, tetapi sekarang berziarahlah ke kubur itu!” (Riwayat Muslim)

Pada pembahasan pagi ini, tentang disunnahkannya untuk ziarah kubur dengan maksud untuk  mengingat mati, dan apa yang kita ucapkan ketika sampai ke kuburan? “Assalamu’alaikum ya ahladdiyar  minal mu’minin wal-muslimin wa inni insya Allah ma’akum lahiqun…” Kurang lebih artinya:

Assalamualaikum: Keselamatan untukmu. Ya Ahladdiyar : Wahai penghuni kubur. Minal mu’minin wal muslimat: Dari golongan orang mu’min dan orang islam. Wa inni insya Allah ma’akum lahiqun: Sesungguhnya saya bersama kamu (akan menyusul).

Salam diatas juga sebenarnya mengingatkan kita, bahwa kita juga akan mati. Dalam lafadz ma’akum lahiqun. Ini adalah sebuah pernyataan bahwa kita nantinya juga akan menyusul orang-orang yang ada di kuburan.

Lebih lanjut pemateri menjelaskan, kadang kala sebagian orang salah persepsi, dengan beranggapan bahwa arwah (jama’ dari ruh) ada dikuburan. Tidak, arwahnya itu ada dialam barzah, alam penantian yang hanya dibatasi dinding dengan kehidupan dunia. Karena secara lughaghi makna dari barzah itu adalah dinding.

Sebelum MSG ditutup pemateri mengetengahkan firman Allah:

Allah Ta’ala berfirman:
“Maka apabila telah tiba waktu ajal mereka, tidaklah mereka itu dapat mengundurkannya barang sesaat dan tidak kuasa pula mendahuluinya.” (an-Nahl: 61)

Pembaca yang budiman, ajal itu akan menjemput siapapun. Tidak pandang usia. Kapan dan dimanapun. Marilah kita selalu mengingatnya agar kita siap menghadapi, dan memperbanyak bekal ketakwaan, keimanan dan amal sholeh.

Semoga kita termasuk orang yang Khusnul Khatimah. Amien ya Rabbal alamien.

Memberikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s